Apa dan Bagaimana?
“Pak Sonny, saya besok ada /meeting/ mendadak dengan Dewan Komisaris, tolong gantikan saya memberikan sambutan di acara pembukaan training public speaking besok pagi di /training center/ ya!”
“Ba…baik Pak. Tapi bukankah ada Pak Wisnu Pak?”
“Beliau nanti sore harus berangkat ke Batam, ada sosialisasi disana. Sukses ya Pak Sonny.”
Permintaan mendadak Pak General ManagerĀ tersebut bagaikan sebuah beban yang teramat berat bagi Pak Sonny, walaupun masih ada waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri, namun entah mengapa bagi Pak Sonny sudah tak ada waktu bagi dirinya untuk berbuat banyak.
Sejak pembicaraan dengan Pak GM tadi, Pak Sonny hampir mencurahkan seluruh pikirannya untuk membuat sebuah sambutan. Berlembar-lembar kertas terbuang percuma berbentuk gumpalan bulat dihempaskan Pak Sonny ke tempat sampah, isinya adalah skrip gagal dan tak sesuai keinginan Pak Sonny. Hari masih siang kala itu, namun bagi Pak Sonny seolah waktu semakin menghimpitnya agar segera membuat skrip yang benar.
Tak lama datang Nita, sekretaris Pak Sonny.
“Pak, ini rangkaian acara pelatihan public speaking besok. Karena yang akan memberikan sambutan besok adalah Bapak, ini rangkaian acaranya. Bapak memberikan sambutan jam 08.45 WIB ya.” Seloroh Nita.
“Baik, terima kasih ya Nit.”
“Siaaal, besok akan ada manager training, manager HRD, manajer umum, 25 orang peserta, instruktur dari perusahaan provider pelatihan, dan manajemen dari perusahaan tersebut. Bisa mati saya bila harus memberikan sambutan didepan mereka.” Keluh Pak Sonny.
“Waduuuh… skrip nya belum jadi lagi, gimana nih.” Batin Pak Sonny.
Pak Sonny semakin ketakutan padahal hanya akan memberikan sambutan sekitar 10 menit saja. Mukanya semakin kusut. Ditengah kebingungan tersebut, matanya tersebut tertuju kepada nama provider pelatihan public speaking besok, Tantowi Yahya Public Speaking School (TYPSS), dan pelatihan yang akan ditangani besok adalah Public Speaking. Raut wajah Pak Sonny seketika berubah senang seolah menemukan jalan keluar.
“Nita, tolong kesini sebentar” Panggil Pak Sonny melalui PABX internal.
“Ada apa Pak?”
“Tolong kamu cari alamat dan nomor telepon Tantowi Yahya Public Speaking School ya!”
“Baik Pak.”
Tak lama Nita kembali dengan data yang diminta. Rupanya alamat kantor TYPSS tak begitu jauh dengan kantornya. Pak Sonny memutuskan untuk datang saat itu juga.
Pak Sonny sudah ada didepan kantor TYPSS, agak ragu namun Pak Sonny memberanikan diri masuk kedalamnya.
“Selamat sore Pak, ada yang bisa kami bantu?” Sambut customer service TYPSS.
“Selamat sore, saya Sonny, dari PT. X, bisa saya berjumpa dengan manajer disini?”
“Baik, ditunggu sebentar Pak. Silakan duduk dahulu”
“Terima kasih”
Tak lama berselang…
“Selamat siang Pak, saya Vanky, Operasional Manager disini. Ada yang bisa saya bantu Pak?”
“Selamat siang juga Pak Vanky, saya Sonny, Operational Manager PT. X, boleh saya mengganggu sebentar?”
“Ooh, bukankah perusahaan Bapak yang akan mengadakan pelatihan pulbic speaking besok?”
“Tepat sekali, terkait hal tersebutlah kedatangan saya kesini.”
“Hmm, sebaiknya kita berbincang di ruang meeting saja ya, silakan Pak.”
Diruang meeting Pak Sonny menjelaskan situasi yang sebenarnya tidak dikehendakinya dan bahkan cenderung dihindari.
“Cukup menarik Pak Sonny.” Timpal Vanky, “Masalah yang Bapak hadapi saat ini sebenarnya masalah yang juga dihadapi oleh jutaan orang lainnya. Namun buka berarti tidak ada penyelesaiannya.
“Solusi apa yang Bapak tawarkan untuk masalah saya tersebut Pak?”
“Baik, manurut saya ada dua masalah mendasar yang saat ini cukup menjadi masalah untuk Bapak, yang pertama mind set Bapak dalam menyikapi masalah ini sudah keliru, dan yang kedua adalah sebagai akibat dari hal pertama adalah cara Bapak menyelesaikan masalah ini juga keliru.”
“Tolong di jelaskan Pak.”
“Hal pertama, mind set Bapak dalam menyikapi masalah ini saya nilai keliru. Kalau kita letakkan masalah ini pada tempatnya, berarti Bapak hanya harus memberikan sebuah sambutan dalam rangkaian acara tersebut, tidak lebih dan tidak kurang. Terkadang timbul dalam benak kita berbagai praduga yang justru menyudutkan dan membatasi gerak kita. Dalam masalah ini, bapak sudah sudah membuat diri Bapak takut jika harus memberikan sambutan, ditambah harus berhadapan dengan rekan-rekan manajer lain. Coba jika kita balik situasinya, mereka butuh Bapak untuk memberikan sambutan, dan semua audiens diruangan tersebut sangat menginginkan Bapak memberikan sambutan. Intinya jangan jadikan situasi apapun menekan kita, tapi justru situasi tersebut adalah ajang yang tepat untuk kita menunjukkan kapasitas kita dihadapan orang lain dan kita akan mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut. Hal tersebut akan cukup mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan mengurangi grogi kita.”
“Menarik sekali, silakan dilanjutkan Pak.”
“Jika Bapak sudah memiliki /mind set/ atau pola pikir yang positif tentang situasi yang akan Bapak hadapi, langkah selanjutnya akan lebih mudah. Berdasarkan cerita Bapak, selama ini Bapak hanya fokus kepada materi apa yang akan Bapak sampaikan, padahal dalam konteks komunikasi, jauh lebih bermanfaat jika kita memikirkan “bagaimana” cara kita menyampaikan informasi tersebut. Artinya “apa” yang Bapak sampaikan masuk kedalam salah satu bagian tentang bagaimana hal tersebut akan saya sampaikan. Bukankah sering kita perhatikan bersama bagaimana orang-orang yang terlalu fokus kepada apa yang disampaikan namun melupakan bagaimana performance dalam menyampaikannya, hasilnya para pendengar akan merasa mengantuk dan tidak tertarik mendengar pembicara. Nah…tentang bagaimana menyampaikannya adalah harus kita latih tekniknya, seperti vokal, bahasa tubuh, mimik, hasrat untuk berbicara dan berbagi informasi, empati, dll. Saya rasa karena hal itulah perusahaan Bapak mengadakan pelatihan tersebut, hehehe.”
“Wah, berarti sudah selayaknya saya juga ikut dalam pelatihan besok ya Pak.”
“Tentu saya Pak. Konten pelatihan besok kan sangat aplikabel dengan keseharian Bapak, sangat baik jika Bapak ikut serta.”
“Pasti Pak, pasti saya akan ikut. Mendengar penjelasan Bapak semakin membuka mata saya akan pentingnya melatih kemampuan berkomunikasi kita. Tapi untuk kesempatan memberikan sambutan besok bagaimana? Saya juga ingin terlihat baik Pak.”
“Jangan khawatir Pak, mari kita latih sedikit saja bersama saya. Mudah-mudahan cukup untuk membuat Bapak percaya diri.”
Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang saya alami dengan Pak Sonny (nama saya samarkan untuk menjaga kredibilitas), banyak orang mengalami hal serupa didunia ini, namun kemauan untuk memberikan performa yang prima adalah hal yang mendorong seseorang untuk terus belajar dan meningkatkan diri. Mudah-mudahan bermanfaat.




