Mbah Surip: Dikenal dan Dikenang, Karena…..????
Diakui atau tidak, Mbah Surip telah menjadi fenomena tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hampir tidak ada yang tidak mengenal beliau di negeri ini, mulai dari lorong-lorong sempit perkampungan padat penduduk di Ibu Kota Jakarta, sampai desa-desa sunyi di pedalaman Kalimantan. Pernah suatu ketika saya mendapat cerita dari kawan di persawahan daerah Samarinda, beberapa petani sambil bersenda gurau bersenandung “tak gendong kemana-mana”, lalu tergelak tertawa seciri dengan Mbah Surip sambil mereka “menggendong” rumput untuk ternak kerbau.
Entah sudah ada berapa banyak “Mbah Surip” yang lalu lalang dalam kehidupan kita, tanpa kita sadari tentunya. Lagi-lagi tanpa kita sadari sebenarnya banyak Mbah Surip disekitar kita, bahkan mungkin saja kita sendiri adalah Mbah Surip bagi lingkungan kita. Kok bisa?
Dari sekian banyak kenangan tentang Mbah Surip, baik dari karyanya maupun dari pribadinya, ada satu hal yang cukup sulit namun bukan berarti mustahil untuk ditiru. Apakah itu? Setelah kepergian beliau, banyak media menceritakan masa hidup Mbah Surip, terutama tentang perjuangan beliau untuk tetap teguh terhadap hal yang dicintainya, yaitu Seni. Keteguhan hati tersebut sangat tergambar terutama ditahun 80an, padahal banyak kemungkinan lain bisa beliau ambil dengan kemampuan intelegensia yang dimilikinya, namun baginya seni tetaplah suatu bagian yang harus tetap mewarnai hidupnya. Bergaul dilingkungan seniman, networking dan nama baik yang dibangun, serta berkarya adalah aksi nyata bagaimana beliau mempertahankan keteguhan tersebut.
Adalah hal yang sulit ditemukan belakangan masa ini mengenai keteguhan hati, dalam hal apapun itu. Tentang bagaimana generasi muda dan generasi produktif kerja untuk tetap teguh berkarya ditengah gempuran hebat dari oknum penjiplak, kaum pecinta jalan pintas, maupun masyarakat yang senang dengan hal yang kebanyakan. Hampir sulit ditemukan golongan yang serius dan tetap teguh menjadi dirinya sendiri dan kemudian berkarya untuk mewarnai masyarakat. Kecenderungan yang ada adalah seringkali kita merasa harus meninggalkan idealisme dan ciri khas diri sendiri demi untuk menyenangkan lingkungan, namun bukankan hal itu salah satu bentuk penyiksaan diri, karena kita akan terus menerus dikendalikan oleh lingkungan agar selalu sesuai dengan keinginan mereka, padahal bukan itu esensi dari fleksibilitas.
Lalu ada suatu pertanyaan, bagaimana kita bisa bertahan kalau kita tidak berdamai dengan lingkungan?
Tina Talisa sering mengatakan “Be A Better Us“. Kita adalah kita, tidak akan pernah sama dengan idola kita. Bahwa kita menjadikan sang idola sebagai panutan adalah hal yang biasa, namun bukan berati kita harus selalu dibawah bayang-bayang kemasyhuran mereka. Jadilah diri sendiri, namun yang lebih baik dari sebelumnya. Proyeksi awal adalah diri sendiri, baru kemudian membandingkan diri sendiri dengan lingkungan. Tina begitu sangat hormat dan berguru kepada seniornya dalam dunia jurnalis, namun Tina berhasil membangun self brand image bahwa inilah Tina Talisa yang berbeda dari orang lain.
Tantowi Yahya mengatakan “You Should Be Old, But Never See Old“. Kita lihat bagaimana sosok Tantowi Yahya seolah tak pernah kehilangan cahaya bintangnya diusianya yang tidak lagi muda, dan bagaimana beliau memuji Chrisye (alm) sebagai seorang penghibur lintas jaman dan tak pernah kehilangan pemuja. Padalah generasi baru calon pengganti begitu derasnya berdatangan. Tantowi dan Chrisye tidak pernah menjadi orang lain, kehadiran dan karya mereka pun tidak pernah mengadopsi karya orang lain, namun berusaha agar selalu terlihat sama dengan penikmat meraka adalah kuncinya. Hal tersebut membuktikan bagaimana Tantowi dan Chrisye mampu berdamai dengan lingkungan namun tidak pernah menjadi orang lain.
Kembali ke Mbah Surip, saya pribadi begitu mengaguminya walaupun jujur saya katakan model rambutnya begitu jauh dari wajah nasionalisme. Tetapi Mbah Surip yang seperti itulah yang membuat kita mengenalnya. Kita pun mulai harus memikirkan hal apa yang akan kita jadikan trade mark bagi diri sendiri agar kita dapat dikenal dan dikenang oleh orang yang mengenal kita. Tidak harus menjadi trend setter, namun setidak-tidaknya ada hal yang membuat kita berbeda.
Ada 2 (dua) yang agak mudah agar kita dapat dikenal dan dikenang:
Pertama, dari kompetensi (baca-kemampuan). Semisal Pak Habibie yang terkenal sangat cerdas dan begitu brilian membangun IPTN, Titiek Puspa dengan karya emas legendarisnya, dll.
Kedua, dari appearance (baca-penampilan). Semisal Olga Syahputra, Ruben Onsu, Ade Namnung yang orang akan mengingat mereka karena keunikan penampilan mereka.
Pembaca yang budiman, adalah hal yang penting teguh menjaga eksistensi kita dalam keberagaman lingkungan, hal itulah yang menjaga kita dari keterpurukan. (vs)




enak to