Reset tampilan layout dari web ini. Mengembalikan widget/posting yang ditutup.

Reset

Tukul aja bisa

tukul1Mengamati acara “Empat Mata” di Trans7 mendorong saya menganalisa sang presenter fenomenal itu. Dalam hati saya bertanya-tanya “Mengapa seorang Thukul bisa sesukses itu sebagai seorang Public Speaker?” Acaranya ditunggu-tunggu banyak orang. Bintang tamu yang diundang sekitar 20 orang per minggu atau 1,040 selebritis dalam setahun. Bahkan ada bintang tamu yang mengaku sudah lebih dari satu kali tampil. Tidak heran jika pengiklanpun berebut untuk memperoleh slot dalam acara tsb. Apakah Thukul tidak pernah merasa grogi saat berhadapan dengan audiensnya?

Padahal bagi banyak orang, menurut sebuah penelitian di negara adidaya seperti Amerika, public speaking adalah salah satu hal yang paling menakutkan dalam hidupnya melebihi stres akibat himpitan masalah keuangan, penyakit bahkan kematian. Ada pribadi di kalangan militer mensejajarkan ketakutan untuk tampil menyampaikan presentasi di hadapan sekelompok orang yang tidak mereka kenal dengan ketakutan terhadap insiden berbahaya yang mereka hadapi saat tugas. Lebih menakutkan lagi jika mereka harus berbicara di depan atasannya untuk menjelaskan sebuah prosedur atau kejadian spesifik tanpa persiapan.

Setelah setahun menjadi mentor di Tantowi Yahya Public Speaking School, saya mengamati umumnya peserta kursus pada awalnya merasa takut saat diminta untuk berdiri dan berbicara bahkan untuk sekedar memperkenalkan diri sekalipun. Menyebut nama mereka sendiri pun terbata-bata. Apakah mereka tidak tahu atau lupa siapa namanya ? Tentu tidak! Keadaan bertambah parah jika mereka diminta untuk menceritakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidupnya di hadapan rekan-rekan angkatannya sendiri dengan durasi waktu yang lebih panjang. Mendadak, semua jadi ingin ke toilet. Kalaupun ada satu dua yang lancar, tapi hambatan yang mereka alami adalah tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri cerita.

Takut, sebuah distorsi psikologis merupakan penghambat utama mereka. Apalagi setelah mereka mengenal teori tentang hambatan komunikasi yang lain berupa distorsi semantik dan distorsi teknis / fisik yang perlu mereka atasi. Temuan sebuah riset mengungkapkan 11 alasan ketakutan yang sering orang alami saat mereka tampil dan berbicara di depan umum sebagai public speaker:
1) membuat kesalahan yang memalukan
2) merusak karir atau reputasi
3) lupa materi yang akan disampaikan
4) penyampaian datar atau membosankan
5) terlihat gugup
6) ditatap audiens
7) tak mampu menjawab pertanyaan
8) tidak siap
9) diabaikan
10) ditertawakan
11) ada yang tertidur di antara audiens.

Sebuah artikel yang saya baca membahas 10 prinsip untuk menaklukkan rasa takut sebagai seorang pemula dalam public speaking. Mungkin seorang Thukul mengatasinya dengan 3 di antara prinsip-prinsip tersebut yang saya sampaikan berikut ini:

Prinsip 1: Tidak perlu menjadi seorang brilyan untuk sukses berbicara
Mungkin Anda orang biasa-biasa saja atau bahkan kurang dari itu. Yang penting Anda ingat bahwa inti dari public speaking adalah: memberikan sesuatu yang bernilai kepada audiens. Itu saja. Jika audiens berlalu dari hadapan Anda dengan sesuatu (apapun itu) yang bermakna, mereka menganggap Anda berhasil. Saat Anda selesai, hadirin bubar dengan perasaan lebih baik, rileks atau mendapat informasi yang berguna, mereka merasa waktunya bersama Anda tidak sia-sia. Anda berhasil.

Jadi penting untuk diingat, esensi public speaking adalah memberi audiens Anda sesuatu yang bermakna. Kata kuncinya adalah MEMBERI bukan MEMPEROLEH. Tujuan public speaking bukanlah agar Anda memperoleh sesuatu (persetujuan, pujian, popularitas, kehormatan, penjualan atau tambahan klien dls.) dari audiens Anda, melainkan untuk memberi sesuatu yang bermanfaat bagi audiens Anda.

Hal itu pula yang sering saya katakan kepada peserta kursus yang beragam usia dan latar belakang pendidikan. Saat menyampaikan umpan balik, saya menyarankan agar mereka memilih makna utama dari materi pembicaraan yang ada manfaatnya bagi rekan-rekannya. Fokus di situ, ketimbang berbicara ngalor-ngidul malahan membuat audiens bingung ke mana arah pembicaraan. Sampaikan secara sederhana. Jika itu Anda lakukan, Anda berhasil.

Prinsip 2: Anda perlu punya tujuan yang jelas
Thukul selalu menutup 90 menit acaranya dengan menyatakan tujuan utama acara “Empat Mata”: menghibur, membuat orang tertawa. Saat audiens seperti koor menyambung kalimat Thukul “kembali ke laaaappp???? . . . mereka menyambung “topppppp!!!!!!! yang sekarang ini sering ditiru orang, atau tertawa terpingkal-pingkal berulang kali (“mencapai klimaks berkali-kali”, kata Nurul Arifin), berarti Thukul telah mencapai tujuannya.

Itulah sebabnya Thukul tidak malu untuk menjadi dirinya sendiri. Menampilkan diri apa adanya, karena Thukul sadar betul tujuannya membawakan acara tsb. Dengan tampang paspasan, bahasa Inggris yang belepotan atau kondisi gaptek yang sering membuatnya berteriak memanggil: “Tiiiaaaaa”!!!!! Justru tujuannya di depan audiens di studio maupun permirsa di rumah, tercapai.

Saat Anda diminta untuk memperkenalkan diri, tentukan bagian mana dari diri Anda yang paling menonjol, paling bermakna dan relevan dengan situasi saat itu, arahkan fokus ke sana. Latihlah beberapa variasi sehingga Anda punya beberapa gaya supaya Anda sendiri tidak bosan dan audiens tidak bisa menebak gaya yang Anda akan tampilkan. Anda akan tampil dengan antusias dan segar. Jika Anda diminta berpidato menutup sebuah acara, pikirkan inti paling berarti dari acara tsb., berfokuslah ke sana. Berlatihlah untuk menyampaikannya dalam waktu singkat, tapi jelas dan lugas.

Prinsip 3: Kesederhanaan dan humor bisa sejalan
Gaya seorang Thukul dipenuhi dengan nuansa sederhana dan rendah hati yang diramu secara humor membuat show tsb. menghibur dan menyenangkan buat audiens. Humor yang sesuai dan disampaikan secara sederhana mudah dipahami semua orang.

Dengan kerendahan hati menceritakan kekurangan, kesalahan atau kelemahan diri di depan orang lain akan membuat Anda lebih kredibel, dipercaya bahkan lebih dihargai. Semua orang punya kelemahan. Dengan berdiri di depan publik dan tidak takut mengakui kekurangan, Anda menciptakan suasana aman bagi diri Anda sendiri dan akrab karena orang lain juga akan mengakui kelemahan pribadinya juga. Orang akan merasa mudah berhubungan dengan Anda. Anda menjadi “bagian dari mereka” bukannya mahluk asing yang mendongakkan dagu dan berada jauh di atas awan. Namun demikian perlu diingat, jangan sekali-kali melakukannya jika memang ini bukan gaya Anda. Kerendahan hati yang tulus dapat dengan mudah dibedakan dari pura-pura rendah hati. Kepura-puraan akan mudah ditangkap oleh audiens dan justru menyebabkan Anda kehilangan respek mereka.

Seringkali, humor dan kerendahan hati bisa digabungkan secara efektif. Menyampaikan cerita humor tentang diri sendiri, atau menggunakan kegagalan pribadi sebagai ilustrasi untuk menjelaskan beberapa hal yang Anda uutarakan, bisa menghibur dan membantu untuk memperjelas hal itu.

Coba perhatikan kembali daftar ketakutan yang saya utarakan di awal tulisan ini. Ada berapa ketakutan yang menurut pengamatan Anda dialami oleh Thukul yang justru menjadikannya sukses di panggung “Empat Mata”? Mana di antaranya merupakan ketakutan Anda untuk tampil? Coba atasi dengan 3 prinsip itu dulu.

Oleh Ibu Juliana (senior Trainer TYPSS)

3 Komentar

  1. ika

    Bicara di depan umum merupakan hal yang cukup menakutkan..gimana caranya menghilangkan perasaan takut dan minder saat presentasi?

  2. agus setiananda

    study and study,,,,,

  3. satritama

    practice make perfect……
    makin sering bisa dan lancar. cara orang pasti berbeda2 utk bisa menguasai keadaan. sy setuju artikel yg diatas bahwa kondisi psikologis ybs sgt mempengaruhi. sejauh mana kedewasaannya, sebisa apa dia bs keep mslh pribadi dia spy ga ada impact ke proses presentasi, dll…..

    ; - )

Leave a Reply